Sabtu, 29 Januari 2011

Sedikit Cerita dari Majelis Ummu Salamah Al Wadiiyah

Di dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ahmad)
Kewajiban untuk menuntut ilmu agama dalam hadits ini tidaklah ditujukan hanya kepada kaum pria, namun juga kaum wanita.

Oleh karena itu, kita dapati bahwa para wanita di generasi awal Islam sangat antusias untuk memperoleh ilmu. Dimulai dari para pemuka mereka yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabiyah (sahabat wanita).
Tidak jarang kita dapati di dalam hadits bahwa para shahabiyah bertanya tentang sesuatu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari, bahwasanya ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang menoleh ketika melakukan shalat. Maka Rasulullah pun menjawab,
“Itu adalah curian, yang syaitan curi dari shalat seorang hamba.” (HR. Al Bukhari No. 751, 3291)
Ini menunjukkan antusiasme beliau untuk mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak hanya dalam perkara yang khusus bagi kaum wanita, namun juga dalam perkara ibadah secara umum.

 

Di bawah generasi para sahabat pun kita dapati para wanita dari generasi tabi’in pun memiliki semangat yang tinggi dalam mendapatkan ilmu syar’i, sehingga tidak jarang kita temui perawi-perawi wanita dalam kitab-kitab hadits seperti: Amrah bintu Abdirrahman, Mu’adzah Al Adawiyah, Fathimah bintu Mundzir, Zainab bin Umar bin Abi Salamah, Hafsah bin Sirin –saudari Muhammad bin Sirin, rahimahumullahu ta’ala.

Ini menunjukkan bahwa wanita muslimah generasi awal Islam selain sibuk mengurusi rumah tangga suami mereka, mereka pun sibuk menuntut ilmu di majelis-majelis taklim. Bahkan lebih dari itu, mereka pun memberikan faidah ilmu, memberikan pengajaran kepada para penuntut ilmu, sehingga bahkan kita dapati ada seorang ulama yang mendapatkan periwayatan hadits dari enam puluh orang syaikhah (guru wanita).

Inilah keadaan para salaf dari kalangan wanita. Dan inilah yang –walhamdulillah- ditiru oleh sebagian wanita penuntut ilmu di majelisnya Ummu Salamah Al Wadi’iyah. Beliau adalah salah seorang alimah (ulama wanita) yang merupakan istri dari mendiang Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah.

Ummu Mujahid Khadijah, salah seorang akhawat yang pernah belajar di majelis beliau pada tahun 1424 H pernah menuturkan,
“Waktu itu kami hadir di majelisnya Ummu Salamah. Ruangan tempat kami belajar di masjid tidaklah terlalu besar, namun penuh dengan akhawat yang ingin mengambil ilmu dari Ummu Salamah. Ya, kami datang ke sana bukanlah karena beliau ‘Ummu Salamah’, tapi karena beliau adalah seorang yang berilmu, dan berkenan untuk membagi ilmunya dengan akhwat yang lain.

Ummu Salamah adalah seorang ulama wanita yang belajar langsung dari Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, suaminya, yang juga salah seorang ulama besar Islam di masa kita.
Beliau masuk ke dalam masjid dengan penampilan yang biasa-biasa saja, sama dengan akhwat lainnya. Tidak ada yang istimewa dengan penampilan beliau. Beliau lalu shalat dua rakaat, lalu duduk di dekatku dan putriku, Sukhailah.

Perkara lainnya yang membuatku takjub adalah pelajaran yang beliau berikan. Para akhawat sering terjebak dengan stigma bahwa akhwat itu hanya mempelajari tema-tema yang berkaitan dengan wanita seperti pernikahan, keluarga, fiqih haid, pendidikan anak, masalah hijab, dll, padahal seluruh perkara di dalam agama itu berkaitan dengan wanita secara langsung, apalagi aqidah.

Di dars, beliau mengajarkan para akhawat tentang khauf dan raja’, yaitu rasa takut dan berharap kepada Allah ‘azza wajalla. Beliau mengingatkan bahwa Allah mengawasi kita dan tahu apa yang kita kerjakan walaupun kita merasa sendirian, tanpa ada orang yang melihat.
Setelah beliau menyelesaikan pemberian materi, akhawat pun menulis pertanyaan kepada beliau. Satu hal yang kembali membuatku takjub, ternyata permasalahan akhawat itu di mana-mana hampir sama. Mereka bertanya tentang shalat, thaharah, aqidah dan perkara yang lainnya.

Ada juga seorang pertanyaan dari seorang ukhti yang kuliah di sebuah universitas di kota Shan’a tentang kondisi studinya yang bercampur antara mahasiswa dan mahasiswi di suatu ruangan. Ummu Salamah pun menjawab dengan tegas bahwa perkara tersebut haram dengan membawakan dalil-dalilnya. Aku masih ingat akhwat yang bertanya tersebut hampir saja meneteskan air mata mendengar jawaban Ummu Salamah. Dia pun mengatakan akan mencari jalan yang lain untuk mendapatkan ilmu.

Selesai majelis, aku dan putriku Sukhailah pun berbincang-bincang dengan Ummu Salamah. Beliau adalah sosok yang baik dan ramah. Perkara pertama yang beliau tanyakan adalah di mana kami belajar agama. Beliau pun memberikan semangat kepada kami untuk senantiasa menuntut ilmu sebisa mungkin dan di mana pun kami berada.
Beliau pun lalu melayani semua akhwat yang ingin berbicara kepada beliau dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sebelum akhirnya beliau berpamitan.

Demikianlah Ummu Salamah wahai para akhwat. Alhamdulillah… Aku nasehatkan pada diriku dan kepada para akhwat untuk senantiasa menuntut ilmu agama ini. Dengannya kita akan mengetahui indahnya syariat dan melahirkan qalbu yang tenang dan selalu fresh, serta membuat kita mensyukuri anugerah Islam yang Allah berikan,


Adapun beberapa murid wanita Asy Syaikh Muqbil bin Hadi antara lain:
1. Putri beliau Ummu Abdillah Al Wadi’iyah. Beliau adalah penulis Kitab Nashihati lin Nisa’, Shahihul Musnad min Syamail Muhammadiyyah (Kumpulan Riwayat yang Shahih tentang Kesempurnaan Figur Muhammad), dan ketika tulisan ini dibuat (1424 –pent), beliau sedang melakukan riset terhadap kitab As Sunnah karya Al Imam Ibnu Abi Ashim. Beliau juga sedang menulis sebuah kitab yang berjudul Shahihul Musnad min As Sirati An Nabawiyah (Kumpulan Riwayat yang Shahih tentang Sirah Nabawiyah). Ummu Abdillah memiliki ta’liqat (komentar-komentar ilmiyah) terhadap Kitab Bulughul Maram karya Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolani.
2. Ummu Abdillah Al Wadi’iyah, beliau adalah kakak Ummu Abdillah yang pertama tadi kita sebutkan. Beliau pun membuka beberapa majelis ilmiyah.
3. Ummu Syu’aib As Salafiyah, beliau adalah istri Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Beliau memiliki beberapa karya ilmiyah antara lain Ash Shahihul Musnad min Fadha’il Ahlil Baitin Nabi”, sebuah kumpulan riwayat yang shahih tentang keutamaan ahlul bayt.
4. Ummu Salamah As Salafiyah, beliau juga salah seorang istri Asy Syaikh Muqbil. Beliau menulis buku yang berjudul Al Intisa’I lil Mu’minat, sebagai bantahan terhadap Abdul Majid Al Zindani, salah seorang tokoh sesat di Yaman. Beliau juga sedang melakukan penelitian terhadap Kitab Al Adabul Mufrad karya Al Imam Al Bukhari rahimahullah.
Dan masih ada puluhan lagi murid beliau rahimahullah dari kalangan wanita.
Wallahu ta’ala a’lam bisshawab.

Sumber: List of Female Students of Shaikh Muqbeel rahimahullah, dengan catatan tambahan dari Ummu Mujahid Khadijah.

sumber : http://blog.wira.web.id/2009/11/06/sedikit-cerita-dari-majelis-ummu-salamah-al-wadiiyah/

0 komentar:

Posting Komentar